Jumat, 19 Februari 2010
Kupu-Kupu Tidur
Kupu-kupu itu bersayap kuning, terbang ke sana kemari di tanah samping. Coba lihat, ia sedang mencari sesuatu, di balik daun bunga sepatu. O, ternyata benar, ia sedang menitipkan telurnya. Nanti telur-telur itu jadi ulat. Ulat-ulat itu merayap dari daun ke daun. Memangsa daun-daun itu, nyaem nyaem nyaem, ia besar, gemuk, lalu masuk ke kepompong. Nah sudah. Coba lihat, dari satu ujung lubang kepompong, lepaslah seekor kupu-kupu, warnanya kuning, seperti induknya.
Aku mengimajikan proses itu. Sebuah proses alami. Alam telah menyediakan segala sesuatunya, agar semuanya dapat berproses, tentu secara alami pula. Kupu-kupu kuning tadi telah pergi, ke halaman rumah tetangga. Di samping rumah ada sirsak, pisang, mangga, dan pepaya. Ada juga bluntas dan gambas. Di bawah pohon dan perdu itu, sedikit menghampar rumput hijau, halus, enak di kaki. Di halaman depan, sama, ada rumput hijau. Di atasnya, ada pepaya, alamanda, cemara pipih, dan melati. Tanaman itu mengisi hari-hariku, ya di tengah-tengah alam semesta yang besar dan "tenang" ini, aku ditimpa keraguan, kebimbangan.
"Hesti, aku sudah mempertaruhkan hidupku, tapi jalan hidup ternyata lain. Aku tak sanggup lagi mampir di rumah kita, yang konon bertabur bintang berjuta. Berbulan bundar, persis harapanku. Tapi bulan dan bintang di rumah kita adalah milikmu. Aku ditakdirkan tidak memilikinya."
Itu ucapan Sapto. Lelaki itu kemudian tak lagi kembali. Sapto telah pergi, lenyap ditelan kebiruan gunung. Sapto mengembara dari gunung ke gunung yang konon wilayah warisan nenek moyangnya.
"Ya, Sapto, bila itu jalan hidupmu, pilihanmu, setialah pada janjimu, pada dirimu. Aku tak kuasa. Jalan hidup kita memang beda. Memang telah kuserahkan diriku padamu, tapi tampaknya tak dapat penuh. Kuserahkan diriku hanya separuh, dan kau menerimanya juga dengan separuh dirimu. Kita sama-sama mengerti. Dan akhirnya memaklumi. Di tengah alam semesta yang besar ini, aku akhirnya sendiri. Bapak ibuku sudah pergi. Adik satu-satuku sudah dibawa suami. Di rumah ini, bagai seorang paranormal, aku merajut masa depan yang gambar-gambarnya samar-samar."
Tak kusadari air mata menetes, tak banyak, hanya satu dua. Tapi itu sudah cukup. Keterharuanku pada jalan hidupku membuatku mengerti, bahwa setiap orang akan digiring kepada jalan hidupnya masing-masing. Ada yang ikhlas menerima, ada yang memberontakinya.
Lelaki itu dulu kutemui di bangsal sebuah gedung teater. Saat itu ada latihan drama. Saat itu aku baru lulus sarjana akuntansi. Meskipun aku suka hitung-menghitung, aku juga suka nonton drama. Bahkan latihan sebelum main, kutonton juga. Itu seperti kita kalau makan kue Hari Raya yang akan dipanaskan dalam van. Rasanya sudah enak, dan memang sudah bisa dinikmati. Dalam kisah drama yang kutonton, ada bagian peristiwa yang menampilkan sisi kehidupan seorang paranormal. Dikisahkan, paranormal pamit pada istrinya untuk bertapa di sebuah lereng gunung di selatan kota. Tapi pertapanya gagal karena tergoda seorang wanita. Sang pertapa kemudian kembali lagi menjadi orang biasa. Entah dari mana Sapto tahu ada latihan drama di Gedung Pemuda pusat kota itu. Sapto sendiri hanya tamat SMA. Ia memilih belajar sendiri dari hal-hal yang dia sukai, dan sangat antusias dengan astronomi, astrologi, serta ekonomi makro. Selain itu, ia menggandrungi puisi dan pijat refleksi. Mungkin background inilah yang mendorongnya datang ke Gedung Pemuda.
Waktu itu, entah bagaimana, aku dan Sapto terlibat diskusi perihal paranormal yang tergoda tadi. Dari diskusi itulah, perkenalan berlanjut. Sapto ternyata orang yang sangat menyayangi tubuhnya. Setelah pernikahan, ia pelit berhubungan seks. Alasannya, tubuh adalah kuil Tuhan, rumah ruh berdomisili. Dan jika ruh menempati sebuah tubuh, itu merupakan perjuangan yang sangat berat, sungguh berat. Sang ruh harus bernego dulu dengan para malaikat pengurus kelahiran. Karena begitu banyak ruh yang ingin atau harus lahir di bumi, maka negosiasi sungguh alot. Dihitung dulu talenta, kemungkinan-kemungkinan prestasi, fleksibilitas dengan cuaca tempat tubuh dilahirkan, atau komplikasi-komplikasi yang mungkin muncul dengan keluarga inti, keluarga besar, suku, dan masyarakat luas. Melihat kesulitan negosiasi, dan kecermatan seleksi di dunia sana, Sapto sangat bersyukur telah bisa lahir ke bumi. Karena itu, sekali lagi, Sapto sangat menghormati tubuh. Tubuh tak boleh semena-mena dikorbankan demi sensasi seks yang tak kunjung habis.
Hernowo? Ya, dialah itu, Hernowo. Lelaki itu adalah suami keduaku. Aku bertemu dengannya, lagi-lagi, ketika ada acara latihan drama. Waktu itu pagi nan dingin, di pinggirian kota, sebuah kelompok teater sedang berlatih pernapasan. Aku diajak seorang teman, aku ikut namun sekadar menonton; sambil baca-baca koran pagi, kudengar mereka teriak-teriak. Mereka disadarkan oleh Hernowo: baik ketika udara masuk atau keluar, yang bergerak hanyalah Tuhan. Dengan sugesti itu, mereka tak hanya diingatkan oleh pentingnya udara, namun juga oleh pentingnya "Tuhan".
Hernowo adalah seorang suami yang nafsu seksnya kuat. Mungkin dampak dari latihan pernapasan digabung dengan bawaan dari sono-nya. Tak seperti Sapto yang kikir seks, Hernowo boros. Sehingga sering aku dibikin kewalahan.
"Hesti, kecerdasanku adalah maksimal. Namun tampaknya aku kewalahan meladenimu diskusi. Semangat hidupku terlalu besar, sayang kurang diimbangi daya intelektual." Demikian pengakuan Hernowo suatu malam, setelah melakukan hubungan suami istri entah yang ke berapa ribu kali.
"Tapi kau pelaku yang baik, man of action. Kamu mampu menghimpun orang-orang, menggerakkan mereka, meski gerakan mereka di atas panggung. Aku lega dipertemukan Tuhan bersuamikan dirimu." Demikian hiburku pada malam yang lain sambil melap-lap tubuhnya yang penuh keringat. Kusuapi dia dengan STMJ khas diriku seperti yang diminatinya.
Sebenarnya aku sudah mulai bisa tinggal di dalam hatinya. Dia juga sangat kerasan hidup di hatiku. Tapi sayang seribu sayang, melalui cerita seorang teman, dan juga aku pernah tahu sendiri, Hernowo masih punya waktu berpacaran dengan salah satu anak buah teaternya. Kerinduanku pada keindahan romantisme perkawinan pupus sudah. Mungkin karena dia menganggapku janda yang kesetiaannya sudah terkoyak.
"Sudahlah, sudah. Kau bisa bayangkan sendiri, di sudut kamarmu yang remang-remang, bahwa akhirnya aku bercerai dengan Hernowo. Hernowo itu terlalu alamiah. Termasuk dalam hal bercinta. Tak apalah. Biarlah semua mengalir, Pantha Rei. Aku mengalir. Sapto mengalir. Hernowo juga mengalir."
Kembali mataku menangkap kepak kupu-kupu kuning itu dengan kesepianku yang lengkap. Aku tak mau lagi jadi ulat. Aku ingin jadi kupu-kupu. Ulat merayap dari daun ke daun. Kupu-kupu itu terbang dari bunga ke bunga, taman ke taman. Aku ingin terbang. Dan ini yang penting, aku tak ingin memakai dua sayap yang di situ ada Sapto dan Hernowo. Dulu aku terbang dengan sayap Ibu dan Bapakku. Kemudian aku terbang dengan sayap Sapto dan Hernowo. Aku ingin menciptakan sayap sendiri, sayap khas Hesti. Mungkin bahan bakunya dari Ibu, Bapak, Sapto, dan Hernowo, atau yang lain.
Dalam kesepianku, kini, aku menekuri diriku yang sibuk merajut sayap. Tak apa, mumpung angkasa masih menyediakanku ruang. Diriku belum sama sekali hampa. Lingkunganku masih tertawa dan terbuka. Kotaku, meski tetap angkuh, toh masih mau menyapa.
Kulihat diriku menekuri diriku. Di sela-sela berbagai daunan berembun, bagai peri, aku mulai melesat dari daun ke daun. Dan kulihat dari pohon ke pohon. Sedang di atas angkasa membuka mulutnya yang tak bertepi, dibanjiri sinar mentari.
Senin, 07 Desember 2009
Presiden Resmikan Universitas Pertahanan Indonesia
| Written by Hatta Harris Rahman | |
| (Jakarta, MADINA): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Universitas Pertahanan Indonesia atau Indonesian Defence University (IDU) yang diprakarsai Departemen Pertahanan RI di Istana Negara, Rabu (11/3) pagi. Pada saat yang bersamaan Presiden SBY juga membuka seminar internasional “Indonesia 2025: Tantangan Geopolitik dan Kemanan” yang ditandai dengan kuliah perdana yang disampaikan Presiden SBY. Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono melaporkan, sejak Presiden SBY menyatakan tekad mendirikan perguruan tinggi di bidang pertahanan, setahun lalu, Departemen Pertahanan melaksanakan langkah-langkah internal maupun eksternal mempersiapkan sebuah perguruan tinggi pertahanan yang berciri khas Indonesia dan sekaligus berkelas dunia. “Karakteristik khas Unhan adalah identitas, integritas, dan nasionalisme, sesuai dengan landasan bernegara kenegaraan yang berdasarkan Pancasila,” kata Juwono. “Sebagai perguruan tinggi di bidang pertahanan, Unhan merangkum dan menghimpun pendidikan jenjang S1 dan S2 yang meliputi Sekolah Strategi Perang Semesta (SSPS), Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI dan Sekolah Kajian Pertahanan dan Strategis (SKPS). Sesko TNI menintikberatkan kepada implementasi operasi militer gabungan, sedangkan SSPS lebih bermuatan strategis karena mencakup unsur komponen cadangan dan komponen pendukung secara integral,” jelasnya. Menurut Presiden SBY, diresmikannya Universitas Pertahanan Indonesia merupakan peristiwa yang bersejarah. “Saya berharap ke depan dengan berdirinya institusi ini, wawasan dan pengetahuan para perwira TNI dan Polri dengan mitra sipilnya terus dapat ditingkatkan. Atas nama negara dan pemerintah, saya mengucapkan terimkasih dan penghargaan kepada saudara Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan para pimpinan dan pejabat negara yang ikut serta bekerja keras mendirikan dan membentuk institusi Universitas Pertahanan Indonesia,” ujar Presiden SBY. “Semoga lembaga ini terus berkembang menjadi sebuah institusi yang credible, dan menjadi world class Defence University. Semoga di lembaga ini, pemahaman para perwira TNI dan siapa saja yang berminat terhadap masalah pertahanan dan keamanan serta masalah-masalah strategis lainnya, betul-betul dapat di perluas dan ditingkatkan,” SBY menerangkan. Sejak awal Presiden SBY memang mendorong dan mendukung berdirinya institusi ini dengan tiga alasan utama. Pertama, dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia kaya dengan doktrin perang, strategi, dan taktik. Mulai dari perang konvensional, perang gerilya, sampai pada lawan terorisme. Kedua, dunia dan kawasan dimana Indonesia berada terus berubah dan berkembang, termasuk hakikat pertahanan, keamanan, dan perdamaian, termasuk pula dinamika geopolitik dan geoekonomi. "Alasan yang ketiga, kerjasama pertahanan antara Indonesia dengan negara-negara sahabat juga terus berkembang, termasuk telah dikukuhkannya ASEAN Political Security Community di bawah New ASEAN Charter,” Presiden SBY menjelaskan. Indonesia Berperan Penting dalam Perubahan Geopolitik dan Geoekonomi Kawasan Dinamika geopolitik dan geoekonomi akan tetap tinggi pada tingkat dunia maupun kawasan. Dinamika seperti itu tentu memberikan tantangan sendiri terhadap keamanan dan stabilitas. ”Indonesia sementara itu akan semakin berperan pada percaturan global dan regional. Apalagi Indonesia pada tahun 2025, insya Allah, akan menjadi negara ekonomi besar dari segi ukuran, GDP dan domestic market,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan Universitas Pertahanan Indonesia atau Indonesian Defence University (IDU), di Istana Negara, Rabu (11/3) pagi. Indonesia, karena posisi geografisnya, juga akan berperan penting dalam konstelasi geopolitik dan geoekonomi. ”Jangan lupa dalam dialog antar peradaban, Indonesia yang memiliki tiga nilai yang saling berpadu dan berbaur yaitu nilai-nilai peradaban Timur, nilai-nilai peradaban Islam, dan nilai-nilai peradaban Barat, tentu akan memiliki peran penting dalam ikut serta membangun dialog antar peradaban tersebut untuk membangun harmony among civilization dan mencegah class of civilization,” SBY menjelaskan. ”Kalau kita berbicara mengenai kompetisi global, menyangkut sumber daya, utamanya yang berkaitan dengan energi dan pangan, Indonesia adalah salah satu negara kunci. Dengan latar belakang semuanya itu, saya berharap semua bisa didiskusikan dalam seminar nanti. Perluaslah cakrawala dan wawasan saudara-saudara tentang isu-isu utama dunia tersebut,” Presiden berpesan. Menurut Presiden SBY, kalau kita mempelajari sejarah perkembangan dunia, banyak sekali persoalan yang tidak bisa dipecahkan dan banyak terjadi peperangan karena salah persepsi, salah mengerti, dan salah kalkulasi. ”Oleh karena itu, memahami satu masalah dengan mendalam, diharapkan kita semua akan memiliki persepsi yang benar, pengertian benar, dan bisa mengkalkulasikan pilihan-pilihan yang akan kita ambil,” kata SBY. Dalam kuliah perdananya tersebut, Presiden SBY mengangkat isu-isu yang fundamental dan elementer berkaitan dengan International Peace and Security, Global Justice and Prosperity, dan The Making of Sustainable Global Order. Ada tiga agenda utama yang dikedepankan Presiden SBY dalam kuliah perdananya. ”Pertama, mengajak melihat potret realitas dunia saat ini. Kedua, setelah itu bersama-sama mengkonstruksikan apa yang menjadi harapan bangsa-bangsa di dunia. Ketiga, berkaitan dengan yang pertama dan kedua, kita bisa mendiskusikan pilihan-pilihan yang tersedia pada kita dan jalan seperti apa yang dapat kita lalui untuk menuju dunia yang adil, damai, dan sejahtera,” SBY memaparkan. ”Dunia saat ini sedang dilanda krisis perekonomian global. Jika dunia gagal mengatasi krisis perekonomian ini maka kemanan manusia sejagad akan terancam. Ini menyangkut human security. Poin saya adalah, krisis ekonomi baik langsung maupun tidak langsung mengancam keamanan manusia sedunia. Masa depan dunia sungguh suram dan keamanan dalam arti luas sungguh terancam,” lanjutnya. Namun tidak semuanya serba jelek. Masih ada harapan dan kesempatan. ”Ada sumber daya yang yang bila dengan cerdas dan arif, maka kita masih tetap bisa membangun dunia yang baik di masa depan. Termasuk membangun peradaban di abad 21 ini,” terang SBY. (osa/pressby.info) |
Minggu, 06 Desember 2009
Kinerja SBY di Bidang Pertahanan dan Keamanan
Pada aspek pertahanan ini prestasi SBY-Kalla sudah terlihat semakin menampilkan satu kemajuan yang lumayan. Beragam peristiwa nasional maupun internasional yang menyangkut dengan keamanan bangsa bisa diatasi. Kasus Ambalat dan MOU RI-GAM menjadi salah satu satu bukti prestasi yang sedikit mengharumkan prestasi pemerintah.
Pada saat penyelesaian masalah antara
Sedangkan penyelesaian kasus Ambalat yang melibatkan pemerintah
“Kita ini bertetangga dengan
Pihaknya khawatir bila hal ini dikembangkan terus tanpa ada transformasi wacana yang produktif dan cerdas, maka yang akan tumbuh subur adalah berkembangnya budaya kebencian dan keterhinaan yang mengarahkan dua bangsa ini ke dalam perang yangg tidak perlu. Salah satu solusi untuk menyelesaikan kasus Ambalat selain dengan melakukan diplomasi adalah dengan meningkatkan perhatian terhadap pulau-pulau terluar. Karena pulau terluar memendam beberapa potensi sumber daya alam yang menjadi incaran negara lain.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan dirinya sudah pernah berada di garis terdepan di Ambalat. Menurut SBY, pendekatan diplomasi tetap dikedepankan. Namun, jika menemui jalan buntu, pemerintah siap berkonfrontasi. Terutama, bila
Kamis, 03 Desember 2009
sms
Mengenal mu sesuatu yang ku inginkan,...
Menyayangi mu sesuatu kebahagiaan,...
Mencintai mu sesuatu keindahan ,...
Hidup bersama mu sesuatu impian,...
Melupakan mu takkan ku lakukan,...
Karena aku sayang kamu,...
Buat Cinta Ku
Bila ku sakit obati aku dengan rasa kasihsayang mu,...
Bila ku mati jangan mandikan aku dengan air mata mu,...
Bila ku terkubur,kuburlah aku dalam hati mu,...
Bila ku tersesat selamatkanlah aku dengan doa mu,...
Harapan Ku
Ku tuliskan 1000 puisi bernada cinta,...
Ku rangkai 1000 kata untuk merayu mu,...
Sejenak rasa yang terpendam dalam hati ku,...
Kulihat bulan dan ku lihat bintang-bintang tak lagi seindah dulu,...
Suara mu,...
Canda tawa mu,...
Tak lagi ku dengar ,...
Andai ku mampu menarik pelangi,...
Maka kutarik ke bumi,...
Kan ku tuliskan kisah cinta ku, saat ini,...
Maka akan ku kembalikan lagi ke langit,...
Izinkan lah aku menyayangimu untuk selamanya,...
Karena Ku
Ku cemburu karena ku takmau kehilanagn mu,...
Ku egois karena ku butuh kasih sayang dari mu,...
Ku marah karena ku menyayangimu,...
dan
Ku ingin kamu yang terbaik buat ku